Demi Merawat 9 Adiknya Pemuda Yatim Piatu Ini Korbankan Kuliahnya

Demi Merawat 9 Adiknya Pemuda Yatim Piatu Ini Korbankan Kuliahnya

Demi Merawat 9 Adiknya Pemuda Yatim Piatu Ini Korbankan Kuliahnya

Pada pembahasan kali ini kita akan mengulas tentang Demi Merawat 9 Adiknya Pemuda Yatim Piatu Ini Korbankan Kuliahnya. Seorang pemuda  Muhammad Izhak dari Dusun Tojangan, Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat tiba-tiba menghebohkan dunia maya dengan kisahnya yang rela mengorbankan kuliahnya demi untuk menghidupi 9 orang adiknya. Hal tersebut tentunya bukan tanpa alasan, anak sulung dari 10 saudara ini mau tidak mau berjuang seorang diri lantaran kedua orang tuanya telah meninggal dunia.

 

Informasi tersebut diposting oleh akun facebook @Yuni Rusmini yang mengisahkan sekitar 3 tahun lalu, Izhak mendapat Beasiswa Pendidikan untuk Mahasiswa Miskin (Bidikmisi) untuk berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Teknik Kimia. (Okezone.com)

 

Tapi apa boleh buat baru 4 semester menjalani perkuliahan di ITB, ia pun harus memutuskan kembali kekampung halamnnya demi merawat adik-adiknya yang ditinggalkan pergi kedua orang tua untuk selama-lamanya.  Ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan mengubur cita-citanya menjadi sarjana kimia pada bulan Maret 2017

 

Pada pertengahan Februari 2017 silam ibunda Izhak menghadap sang khalik karena mengidap penyakit tumor derektum. Sedangkan ayahandanya menghembuskan nafas terakhir karena penyakit Tuberculosis (TBC) yang menggerogotinya pada bulan November 2017.

 

Artikel Terkait : Kisah Bocah Berjualan Leker Demi Biaya Operasi Ibunya yang Mengidap Kanker Rahim

 

Izhak memiliki adik yang masih sekolah di bangku kelas 6 SD, kelas 1 SMP, kelas 2 SMP dan bahkan ada yang masih TK. Adapun adiknya yang bungsu masih berumur 19 bulan. Walaupun ia berhenti kuliah, ia tetap berharap agar adik-adiknya tetap melanjutkan sekolah sampai selesai.

 

Sebenarnya dari pihak ITB saat itu mengupayakan semaksimal mungkin agar pemuda tersebut tetap bisa melanjutkan perkulihannya, namun apa daya kondisi keluarga yang sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliah, sehingga harapan tersebut hanyalah sebatas angan-angan semata dan sulit untuk diwujudkan.

 

Kini Izhak dengan sabar dan tabah bertanggung jawab untuk menafkahi adik-adiknya dengan usaha membuat gula merah di rumah kayu yang amat sederhana. Kisah ini menjadi viral karena banyak dibagikan di media sosial facebook. Tentunya diharapkan banyak yang hatinya tergerak dengan kisah ini untuk membantu meringankan beban Izhak dan adik-adiknya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak lagi.

 

Berbagi Tugas

 

Seperti yang dikutip dari Kompas.com Izhak berbagi tugas dengan beberapa adiknya, adapun tugas-tugas tersebut adalah mencuci pakaian, memasak, mencuci piring, hingga mengolah nira enau menjadi gula aren. Dua adik perempuannya Fadilah dan Mutmainnah mendapatkan tugas mencuci piring, pakaian, termasuk membersihkan rumah dan perkarangannya.

 

Adapun 4 adiknya yang lain, Ismail Nur Aliah, Abdul Halim, dan Chaerul Aqfan membantu kakak untuk membuat dan mencetak gula aren atau membersihkan tempurung kelapa sebelum digunakan mencetak gula aren. Sedangkan adiknya Aslan mempunyai tugas menyadap pohon enau untuk diambil air niranya di kebun milik nenek mereka.

 

Izhak menafkahi kebutuhannya dan adik-adiknya dengan cara membuat dan menjual gula aren. Air nira diolah menjadi gula aren, dicatak dengan tempurung kelapa dan dibungkus menggunakan plastik. Setelah itu Izhak menjual gula aren itu ke pedagang perantara yang datang kerumahnya. Pendapatan mereka dalam sebulan berkisar pada Rp. 200.000.

 

Artikel Terkait : Tindakan Pemuda Ini Harusnya Bikin Malu Mereka Yang Titipkan Neneknya Di Panti Jompo

 

Meski pendapatan yang tak sebanding dengan kebutuhan mereka, Izhak masih mampu untuk membiayai kuliah adik perempuan keduanya, Hasnawati. Kini Hasnawati masih menuntut ilmu di perguruan tinggi STAIN Pare-Pare, Sulawesi Selatan.

 

Berperan Sebagai Bapak dan Ibu

 

Dengan keadaan yang seperti ini selain menjadi kakak, Izhak kini juga berperan sebagai ayah dan sekaligus ibu untuk 9 adiknya. Ia harus bisa merawat dan mengayomi adik-adiknya. Contohnya saja si bungsu, Chaerul yang masih berusia 1,7 tahun yang masih kerap menangis mencari orang tuanya. Tapi Izhak dapat menenangkan Chaerul dengan memeluk dan menggendongnya.

 

Selain membuat gula aren dan menjualnya Izhak juga sering bekerja di kebun peninggalan almarhum ayahnya, ketika sedang tidak menggendong Chaerul. Tentunya ia berharap mendapatkan pekerjaan tambahan agar bisa menghidupi keluarganya, termasuk kebutuhan biaya pendidikan adik-adiknya.

 

Izhak masih mempunyai keinginann untuk melanjutkan kuliahnya, walaupun tidak harus di ITB lagi. Ia berjanji akan kuliah lagi tentunya setelah Chaerul sudah bisa ditinggal oleh dirinya. Ia menjelaskan bahwa adiknya rewel dan tidak semua orang bisa akrab dengannya. Jika ia kuliah maka ia harus menginggalkan adik-adiknya lagi termasuk Chaerul yang masih tidak bisa lepas darinya.

 

M. Izhak Mulai Menyusun Mimpinya

 

Seperti yang dikutip dari Liputan6.com Izhak mendapatkan bantuan dari Gerakan Peduli Sosial Polewali Mandar (GPS-PM). Saat ini ia telah mendapatkan bantuan yang dikirim langsung melalui rekening milik Izhak. Bantuan bisa langsung ditransfer kerekening dan juga bisa langsung ketempat kediaman Izhak.

 

Untuk para donatur yang hendak membantu Muhammad Izhak, bisa langsung transfer ke Nomor Rekening BRI, 5034-01-022896-53-0 atas nama Muh. Izhak. Bagi donatur yang hendak menyalurkan langsung bantuan ke rumah Muhammad Izhak, terletak di Dusun Tojangan, Desa Pasiang, Kecamatan Matakali Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Untuk saat ini dana yang masuk masih berkisar Rp 70 jutaan, 20 Des 2017.

 

Jalur paling dekat untuk sampai kerumah Izhak adalah melalui depan Kantor Bupati Polewali Mandar. Berjalan saja lurus masuk sekitar lima kilometer, jika sudah sampai pertigaan belok kiri. Kemudian mencari jalan ke Aribang. Selanjtunya ikuti jalur menyeberang sungai dan masuk lorong kecil didekat masjid sejauh 500 meter akan didapati rumah Muhammad Izhak.

 

Artikel Terkait : Tak Mau Mengemis, Kakek Tua Ini Jualan Sabun dengan Sepeda Ontel

 

Dana bantuan dari para donatur tersebut akan dipakai membangun rumah ditanah warisan almarhumah ibunya, karena tanah yang ditempatinya sekarang adalah tanah saudaranya sedangkan bangunannya milik almarhum ayah mereka. Tanah ibunya sudah ada pondasi untuk dibaungun rumah dan terhenti karena terkendala biaya.

 

Selain untuk membangun rumah, dana bantuan tersebut akan dipakai untuk pendidikan adik-adiknya. Tujuh dari sembilan adik-adiknya saat ini masih menuntut ilmu, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga yang masih kuliah.

 

Demikianlah pembahasan tentang Demi Merawat 9 Adiknya Pemuda Yatim Piatu Ini Korbankan Kuliahnya, mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk tetap bersabar dan bersyukur dalam memperjuangkan hidup ini. 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 8 + 10 ?
Please leave these two fields as-is: